Kamis, 13 November 2008

usaha dengan filosofi tionghua

Berikut adalah interview yang dilakukan oleh Majalah Duit dengan Dr. Beni Bevly mengenai usaha ala Tionghoa:

Majalah Duit (MD): Bolehkah anda menyebutkan 10 prinsip-prinsip memulai usaha mau pun berbisnis orang Tionghoa yang anda selalu ingat/pertimbangkan dan yakini kebenarannya?

Beni Bevly (BB): Pertama, usaha keras, berani mencoba dan tidak takut gagal, memulai dengan apa adanya. Agaknya poin inilah yang menjadi kelebihan utama dari para pengusaha Tionghoa. Dalam keluarga Tionghoa, kerja keras bukanlah hal yang aneh. Mereka sudah terbiasa lembur hingga pagi. Jika ada kesempatan, seperti hari menjelang Lebaran, mereka tahu bahwa permintaan akan meningkat, maka mereka akan bekerja keras untuk memenuhi permintaan tersebut karena mereka menyadari bahwa Lebaran hanya satu kali dalam satu tahu. Moto orang Tionghoa dalam kerja keras yang sering saya dengar adalah “Kita harus bisa memindahkan gunung” dan “Kita harus bisa seperti orang lain walaupun kita melakukannya 100 kali lebih keras dari mereka.”

Orang Tionghoa pada umumnya berani memulai suatu usaha dan tidak takut gagal. Mereka mempunyai sense of urgency yang tinggi. Mereka sering berpendapat, “Jika tidak memulai sekarang, kapan lagi?” Gagal bukanlah hal yang menakutkan karena umumnya mereka selalu memulai usaha dengan apa adanya dan dari bawah.

Kedua, mengumpulkan informasi dan belajar. Sebelum terjun ke suatu bidang usaha, umumnya orang Tionghoa akan mengumpulkan informasi sebanyak mungkin. Mereka tidak segan pergi ke saudara, teman, dan bahkan pihak yang tidak mereka kenal. Setiap pembicaraan dengan siapa saja mereka untuk menanyakan usaha yang akan mereka tekuni. Kemanapun mereka pergi, mereka akan membuka mata dan telinga lebar-lebar. Dengan kata lain mereka sangat mahir melakukan survey terhadap usaha yang akan mereka geluti.

Selain itu, mereka juga tidak segan untuk belajar. Cara belajar yang umum dari mereka adalah bekerja untuk orang yang usahanya serupa. Setelah yakin telah menguasai cukup informasi dan keterampilan mereka akan berusaha sendiri.

Ketiga, melakukan perencanaan. Perencanaan yang paling umum dilakukan oleh orang Tionghoa adalah melihat dari segi untung-ruginya suatu usaha. Dalam bahasa akademis, mereka mempertimbangkan visibility usaha yang akan mereka jalankan. Berapa banyak ongkos yang akan dikeluarkan, bagaimana cara mendapatkan bahan baku/material, bagaimana mempersiapakan produk mereka, siapa yang akan beli, akan dijual dimana, kapan kembali modal, dan berapa keuntungannya merupakan faktor utama yang mereka pertimbangkan.

Perencanaan mereka juga sangat memperhatikan efektifitas (tujuan tercapai) dan efisiensi (tepat cara, tanpa banyak mengorbankan waktu dan tenaga) usaha yang mereka geluti.

Keempat, membina relasi. Walaupun orang Tionghoa sangat kompetitif, tetapi mereka selalu sadar bahwa membina relasi adalah salah satu kunci keberhasil usaha mereka. Untuk membina hubungan baik mereka tidak ragu untuk mengeluarkan pengorbanan tertentu, seperti pemberian hadiah, mengundang makan dan melakukan entertain terhadap relasi mereka.

Siapa saja yang bisa membantu melancarkan dan mengembangkan usaha adalah relasi mereka. Dengan pembinaan relasi yang baik, akan terbuka kerja sama yang saling menguntungkan.

Kelima, kemampuan administratif dan inventory control. Agaknya banyak orang lupa akan hal yang satu ini. Orang Tionghoa sangat sadar akan pentingnya kemampuan dalam beradministrasi dan melakukan mengontrolan inventory. Mereka sangat memperhatikan secara terperinci setiap kegiatan usaha mereka dan merekamnya dalam catatan. Karena itu mereka tahu betul bagaimana neraca keuagan mereka dan persediaan inventory mereka.

Sebagai contoh, jika kita hendak belanja sesuatu di toko orang Tionghoa sangatlah jarang bahwa mereka sampai kehabisan persediaan.

Keenam, kemampuan pemasaran. Kemampuan pemasaran orang Tionghoa umumnya ditunjang oleh kemampuan mereka dalam memenuhi kebutuhan dan kemauan pelanggan dan kemampuan menentukan harga jual dari suatu produk secara tepat. Dari proses ini, maka terjadilah penyebaran iklan gratis dari mulut kemulut.

Untuk pengusaha yang cukup besar, mereka melakukan positioning secara professional dengan mensponsori kegiatan tertantu dan pemasangan pengiklanan melalui media cetak dan media digital.

Ketujuah, mendelegasikan. Orang Tionghoa sadar betul bahwa untuk mengembangkan suatu usaha agar menjadi besar, mereka harus bisa mendelegasikan pekerjaannya. Syarat utama pendeligasian adalah bahwa orang atau karyawan mereka harus bisa dipercaya. Karena itu, mereka cenderung mencari orang yang sudah dikenal lama dan terbukti bisa dipercaya. Bagi mereka keahlian berusaha bisa diajarkan, tetapi kebercayaan tergantung dari masing-masing kepribadian.

Karena sistem kepercayaan ini jugalah maka, mereka tidak segan-segan meminta anak mereka yang masih kecil untuk membantu usaha mereka. Di lain pihak, anak mereka yang sudah terbiasa terekspos dengan usaha orang tuanya, membuat sang anak tumbuh dengan naluri usaha yang mendarah daging.

Kedelapan, mendiversifikasi. Pengusaha Tionghoa tidak mudah merasa puas dan cukup atas usaha mereka. Mereka selalu berusaha untuk memperluas usahanya. Salah satu caranya adalah dengan melakukan deversifikasi produk.

Mereka cenderung mempunyai keinginan untuk memenuhi semua kebutuhan dan keinginan pelanggannya. Mereka ingin agar pelanggannya hanya datang ke mereka. Untuk itu, mewujudkan keinginan ini, cara yang paling tepat adalah berani melakukan deversifikasi produk.

Kesembilan, mengolah keuangan. Tidak ada istilah “uang mati” dalam kamus berdagang ala orang Tionghoa. Mereka selalu mempekerjakan uang tersebut supaya bisa berlipat ganda. Cara yang paling umum dilakukan adalah menanamkan modal kembali ke usaha mereka. Hal ini bisa dilakukan untuk memdirikan usaha baru atau untuk membesarkan usaha yang telah ada.

Mental untuk melipatgandakan uang memang sudah tertanam dari kecil di lingkungan keluarga mereka. Contohnya, jika mereka menerima pemasukan Rp.100, maka mereka akan menyimpan paling tidak Rp. 25 dan sisanya ditanamkan kembali keusaha mereka dan untuk kebutuhan hidup mereka.

MD: Bolehkah anda menceritakan contoh bagaimana Bapak menerapkan prinsip tersebut dalam bisnis Bapak?

BB: Contoh prinsip yang sering saya terapkan adalah perencanaan yang baik dan kerja keras. Prinsip perencanaan yang baik adalah untuk mencapai keefektifan dan keefisiensian dalam proses kerja. Prinsip kerja keras adalah bagaiman memotivasi saya sendiri dan karyawan saya untuk tidak cepat putus ada.

Ketika saya masih remaja dan tinggal dengan orang tua, salah satu bisnis mereka adalah garmen atau perusahaan pembuat pakaian jadi. Pada masa tertentu, seperti bulan Ramadan, permintaan (demand) meningkat sedangkan output produksi menurun karena banyak kaeyawan yang berpuasa. Walaupun demikian, ayah saya tidak pernah menyerah dengan keadaan ini. Ia menyusun perencanaan yang matang dengan memilah proses produksi tertentu yang tidak cepat melelahkan ditugaskan pada karyawan yang berpuasa. Kami yang tidak berpuasa diminta untuk lembur dengan diberi imbalan yang lebih banyak.

Dalam kondisi seperti ini, ayah saya sering memotivasi dengan berkata, “Ayo, kita bisa memindahkan gunung .” Pengalaman seperti sering saya terapkan dalam usaha saya sekarang ini.

MD: Bagaimana cara orang tua anda menanamkan nilai-nilai/prinsip-prinsip tersebut kepada anda atau anak-anaknya?

BB: Agaknya jawaban dari pertanyaan ini adalah inti kesuksesan dari bisnis keluarga orang Tionghoa, yaitu warisan nilai-nilai atau prinsip-prinsip usaha yang berhasil diturunkan oleh orang tua Tionghoa kepada anak-anaknya. Sebagai contoh, jika kita pergi ke toko-toko orang Tionghoa, sering kali kita dilayani oleh anak mereka yang masih duduk di bangku Sekolah Dasar. Tanpa merasa canggung, anak tersebut bisa melayani kita dengan mahirnya. Adalah hal yang wajar jika suatu saat ia tumbuh menjadi orang dewasa, maka ia sudah siap untuk berusaha.

Orang tua Tionghoa tidak pernah segan untuk melibatkan anaknya yang masih kecil dalam usaha mereka. Mereka sudah diberi tanggungjawab yang cukup besar untuk ukuran seorang murid SD. Mereka diajari setiap proses bisnis dari persiapan hingga sampai ke tangan pelanggan dan bagaimana menangani pelanggan setelah transaksi jual beli.

Anak-anak orang Tionghoa juga diajak kerja lembur, bahkan banyak dari mereka yang diajak bekerja sampai pagi tanpa tidur. Dalam proses kerja itu, mereka di dampingi oleh orang tua mereka. Pada kesempatan itu terjadi penurunan nilai-nilai cara berusaha dari orang tua mereka.

Melibatkan anak dari usia dini adalah cara yang paling ampuh dari orang tua mereka untuk membentuk anak mereka menjadi bisnismen tangguh di kemudian hari.

Hal ini searah dengan wejangan Kong Hu Cu, “Saya dengar dan saya lupa. Saya lihat dan saya ingat. Saya kerjakan dan saya ngerti.”

Ten Second Before Sunrise

lirih tersenggal nafas malam mulai terdengar dan ia berdetak perlahan, meski lama ia telah lelah melangkah dan ia hanya akan hendak berhenti sejenak tuk terus berjalan putari sisa waktu bumi. Sang Pagi pun mulai regangkan kaki dan coba berdiri tegak dan menjantan perkasa. rasakanlah, kini pagi akan mulai berjalan..

Aroma pagi membawa bekas-bekas persetubuhan dingin dengan hangat, ya.. dingin malam adalah sang jantan yang berkelana kemana angin mencomblangkannya setiap hari dan mencari hangat yang menawarkan lembut bentuknya. Persetubuhan mereka akan menitiskan embun dan menawarkan setitik kesegaran pada sesiapapun mereka yang mau mengintip, tidak ada makna malu untuk kemaluan mereka yang bertautan, siapapun yang mengintip, melihat bahkan merekam keindahan persetubuhan mereka dalam ingatan akan terpesona. Mereka akan menjadi ikut birahi dan bernafsu untuk melihat lagi.. lagi dan lagi..

Mereka yang menyaksi akan menagih untuk melihat bagaimana dingin mengecup dahi hangat dengan seolah tak peduli dan bagaimana kelembutan hangat membelit dan menenggalamkan kejantanan dingin dalam dirinya sepenuhnya, dan melumatnya hingga lunglai tak berdaya dan puas, perlahan dan dengan terlolosnya bentuk dingin dan hangat mereka orgasme, tetes-tetes embun akan menitis dan terbawa oleh angin.. dan jika pagi ini kau terbangun mendapati embun menyapa wajahmu.. coba rasakanlah sedikit kesegaran dari ekstase dingin dan hangat yang telah orgasme bersama sepuluh detik yang lalu.

Seluruh jari-jari dan tulang tubuh rumput yang semenjak tadi di rajam bekunya malam pun mulai meregang. Rumput-rumput menggeliat menggoda, rambatan energi mulai menyelimuti gemulai gerakan mereka yang disapu dengan lidah basah dari angin pagi, meninggalkan jejak segar dan ekstase tak terkira, rumput dibasahi keinginan dan ia telah siap untuk menyambut keperkasaan matahari.

Sementara rumput menari dan mengeliat-geliat liar di sapuan ekstase angin yang juga membawa bayangan perkasa matahari, kehidupan lain mulai bermekaran. Beberapa mata bintang perenung keajaiban mulai sayup dan meredup, mereka lelah terjaga semalaman dan bergelayutan di atap langit, saudaranya menggantikannya saling berkedipan untuk membuat janji menrenungi keajaiban hari. Bintang fajar berpijar, cahanya memancar liar mengahajar dengan gahar pada semua mata yang menatapnya, namun ada harapan di tatapan cahaya itu, ada pujian pada mereka yang telah bangkit menyambut matahari.

Pelan, satu kilatan cahaya di horizon mencuat, terasa seperti sebuah muncratan orgasme yang keluar memancar sekilas.. Matahari sedang berkedip. Matahari mengangkat kedua tangannya menggeliat malas, semburat cahaya pun muncrat lebih banyak lagi, kali ini seperti cipratan orgasme susulan yang lebih banyak dan membancar keluar tak tertahan lagi.. Seluruh penjuru alam menatapnya tak berkedip, menyaksikan kaisar siang melirik dengan malas pada kesemua yang menatapnya takjub, perlahan Matahari menengadah dan bersyukur takzim, kesemua makhluk dan alam ikut mendongak dan memejamkan mata, dalam batin tiap mereka menatap tinggi, jauh ke batas yang bahkan tak tersentuh sedikitpun oleh hangat matahari maupun dingin malam. Sejenak semuanya diam, tak ada suara, tak ada gerakan, tak ada nafas ditarik ataupun dihembus..

semuanya bernyanyi pelan..

sunyi…

su..nyi…

s…u….n…y…i…

kami bernyanyi tentang sunyi…

dalam diamnya yang khidmat dan agung itu.. seperti hantaman palu hakim dunia, seperti geledek yang menghajar awan dengan cemetinya dan Bllllaaarrrrr..!!!

Matahari membuka matanya dengan nyalang, tak nampak lagi lelah dan mengantuk di matanya, ia menatap dengan gemas pada semua makhluk dan alam dalam jangkauan pandangnya, dalam gambar matanya yang sejak detik itu tak akan menutup kelopaknya sampai petang nanti. Semua mata yang tertutup dalam khidmat yang agung itu membuka bersamaan dan matahari dengan bertalu-talu memukul gendang penabuhnya dengan semangat yang bahkan tak terlawan, matahari membagi semangatnya dalam cahaya..

DUGH..!!

DUG..DUG..!!

DUG..DUG..DUG!!

Matahari dengan nyalang matanya yang tajam dan tak terlawan oleh mata kesemua makhluk menatap satu persatu semua mata dengan secepat yang tak terbayangkan. Kesemuanya mata seolah ditatapnya bersamaan

seolah ada satu komando yang memerintah dan serempak semua detak jantung terpacu bersamaan, semua berdegup bersama, berdegup bersama semua, bersama berdegup semua. Detak-detak nampak semburat dan bubar dari khidmatnya, semua mencari iramanya masing-masing dan bekemudian berteriak-teriak membagi liarnya pagi, sepuluh detik kemudian.. semua jantung menemukan irama masing-masing dan berdetak masing-masing semua memiliki irama yang berbeda, berbeda dalam satu sepersekian sepuluh juta kali sekian juta-juta. Tak ada irama jantung yang sama, semua meritmis sendiri, dan itu adalah irama hidup terindah yang pernah terdengar.

Kemudian dengan tangan berkacak di pinggangnya, matahari perlahan melayang ke atas, langit pun terbatuk silau dan segera menyibak selimut matahari yang hitam kelam dengan terburu-buru, itu kenapa kita bisa melihat semburat warna yang bercampuran di pagi hari saat terbitnya matahari, dan matahari tak peduli dengan keterlambatan langit membuka selimut untuknya, karena selimut itu pasti bolong terkena muncratan dan buncahan tubuhnya yang konon selalu penuh dengan gairah menggelegak yang panas dan tak tersalurkan. Hanya dengan pancaran genderang gairah itu saja semesta bisa benderang.

Sampai matahari menampakkan separuh dirinya, aku masih menatapnya takjub, kemudian akupun beranjak dari kursiku dan pergi membasahi diriku, aku harus mencuci gairah yang di tularkan matahari padaku, karena aku hanya sendiri menatapnya, sama seperti pagi-pagi sebelumnya.

inspired from :
DJ Tiesto - Ten Second Before Sunrise
Album : Elements Of Life

Jumat, 27 Juni 2008

Politikus

Politikus......

kalo menurut gue, jadi seorang politikus boleh aja seh........., asal jangan jadi Tikus Politik aza..., karena sangat berbeda tuh, si politikus dan si tikus, si Politikus sibuk memikirkan celah berpolitik praktis demi kedamaian dan kenyamanan hidup bermasyarakat, sedangkan si Tikus Politik sibuk mencari remah remah sisa proyek dan sisa anggaran yang bisa dibawa pulang,

sangat dilema,,,,,

bayangkan saja,
mereka berada dan bekerja pada tempat yang sama yaitu di pemerintahan,,,,,
mereka memakai atribut yang sama yaitu sebagai wakil rakyat....
mereka bahkan makan makanan yang sama........

Dilema banget gak seh.....